Indonesia berada di peringkat 94 dari 144 negara health and primary education terbaik dunia. Hal tersebut merupakan salah satu kelemahan industri di Indonesia. Salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengatasi hal tersebut adalah program link and match yang dilakukan antara perusahaan dengan institusi pendidikan. “Saat ini masih banyak institusi pendidikan tinggi khususnya untuk vokasi yang menghasilkan SDM tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Hal tersebut dapat menyebabkan meningkatnya pengangguran dan juga kerugian bagi perusahaan itu sendiri. Salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menjalankan program link and match. Namun kenyataannya beberapa perguruan tinggi tidak memperhatikan program tersebut,” tutur Zuhri Nurisna, S.T.,M.Eng Sekretaris Program Studi D3 Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), saat diwawancarai pada Sabtu (16/1) terkait kegiatan kunjungan industri yang dilakukan D3 Teknik Mesin UMY.

Zuhri juga mengatakan bahwa program link and match adalah sebuah simbiosis mutualisme antara perusahaan dengan institusi perguruan tinggi. “Simbiosis mutualisme akan tercipta melalui program ini seperti contohnya ketika perusahaan memiliki sebuah permasalahan maka institusi dengan fasilitas yang ada bisa menemukan solusi. Sedangkan untuk Institusi bisa mengirimkan SDM untuk ditingkatkan secara skill dan selanjutnya SDM bisa langsung diserap perusahaan yang secara tidak langsung mengurangi pengangguran,” tuturnya.

Zuhri juga mengatakan selain melalui program link and match, institusi perguruan tinggi juga perlu memikirkan tentang pola komunikasi yang dibangun kepada mahasiswa. “Saat ini yang sering terjadi komunikasi yang dibangun oleh institusi pendidikan hanya komunikasi satu arah dari sekolah kepada mahasiswa, sedangkan peran orang tua dikesampingkan. Padahal peran orang tua sangatlah penting dalam rangka membangun sikap yang lebih baik. Banyak kasus terjadi karena SDM tidak memiliki sikap yang baik, kemudian terjadi reject material dalam skala yang besar sehingga menyebabkan kerugian perusahaan,” tambahnya.

Hal inilah yang menyebabkan institusi perlu melakukan sebuah edukasi terhadap orang tua. “Maka dari itu perlu dilakukan edukasi terhadap orang tua sehingga nantinya akan tercetak SDM yang tidak hanya baik dalam hal kemampuan dan pengetahuan, namun juga sikap yang dimiliki ikut baik seperti jujur, bertanggung jawab, disiplin, kerjasama serta peduli,”ungkap Zuhri lagi.

Zuhri juga mengatakan untuk menjawab tantangan tersebut D3 Teknik Mesin UMY akan mengadakan program link and match dengan beberapa perusahaan di kawaasan MM2100. “Kami tengah memulai menjalin komunikasi dengan beberapa perusahaan seperti PT. Suryaraya Rubberindo Industri, PT. Sebastian Jaya Metal, dan PT. Suzuki Indomobil Motor sebagai mitra dalam peningkatan hardskill dalam bentuk praktik industri serta penyerapan SDM. Sedangkan Jotun sebagai mitra dalam peningkatan etos kerja,” tambahnya.

Zuhri juga berharap dengan program ini lulusan Vokasi bisa sesuai dan dengan mudah diserap oleh Industri. “Karena biasanya setelah lulus pendidikan mahasiswa mencari pekerjaan sendiri maka harapannya dengan program ini setelah lulus bisa langsung terserap di industri karena SDM sudah sesuai dengan kebutuhan Industri.” harapnya. (zaki)